Saturday, July 12, 2014

Perubahan Organisasi dan Perkembangan Organisasi

2.1   PERUBAHAN ORGANISASI DAN PERKEMBANGAN ORGANISASI
Bab ini mambahas perubahan organisasi, kami menguraikan kekuatan-kekuatan lingkungan yang memaksa para manajer untuk menerapkan program perubahan secara komprehensif. Kita juga akan mencari tahu alasan orang dan organisasi sering menentang perubahan dan bagaimana resistensi ini dapat diatasi. Kita akan mengulas berbagai proses untuk mengelola perubahan organisasi. Kita pun akan membahas isu-isu kontemporer mengenai perubahan bagi para manajer masa kini.
Kekuatan untuk Perubahan
Kini, semakin banyak organisasi menghadapi lingkungan yang dinamis dan senantiasa berubah. Hal ini, pada gilirannya, memaksa mereka untuk menyesuaikan diri. “Berubah atau mati!” adalah tempat perang diantara para manajer masa kini di seluruh dunia.
Teknologi mengubah pekerjaan dan organisasi. Sebagai contoh, komputer kini sudah menjadi barang yang lazim di hampir setiap organisasi dan telepon seluler dan PDA genggam dipandang sebagai kebutuhan pokok oleh sebagian besar masyarakat.
Persaingan mengalami perubahan. Ekonomi global berarti para pesaing bisa jadi muncul dari seberang lautan datau dari kota lain. Meningkatnya persaingan juga membuat organisasi-organisasi yang sudah mapan perlu mempertahankan diri dari para pesaing tradisional yang mengembangkan berbagai produk dan layanan baru maupun wirausaha kecil yang memiliki penawaran inovatif. Organisasi yang sukses adalah organisasi yang dapat mengubah diri untuk menanggapi persaingan tersebut. Mereka bergerak cepat, mampu mengembangkan produk-produk baru dengan cepat dan terpasarkan dengan cepat pula.
Berikut ini adalah enam kekuatan spesifik yang berfungsi sebagai perangsang perubahan :
Kekuatan                                 Contoh
Keadaan angkatan kerja                       Keragaman kultur yang lebih besar
                                                Populasi yang lebih tua
                                                Banyak karyawan baru dengan keterampilan yang belum memadai
Teknologi                                Komputer yang lebih cepat,lebih murah,dan lebih mudah dibawa kemanapun
                                                Pengunduhan musik secara online
                                                Penerjemahan kode genetika manusia
Guncangan ekonomi                Kebangkitan dan kejatuhan saham dot-com
                                                Runtuhnya pasar saham 2000-02
                                                Tingkat suku bunga yang sangat rendah
Persaingan                               Pesang global
                                                Merger dan konsolidasi
                                                Pertumbuhan e-commerce
Tren sosial                               Ruang bincang-bincang di internet
                                                Pensiunnya kaum baby boomers
                                                Meningkatnya diskon dan peritel”bog box”
Perpolitikan dunia                    Perang Irak-AS
                                                Pembukaan pasar di China
                                                Perang melawan terorisme pasca tregedi 11 September 2001

2.2   Mengelola Perubahan Terencana
Perubahan adalah Membuat sesuatu berbeda sedangkan Perubahan Terencana adalah aktivitas-aktivitas perubahan yang disengaja atau terarah pada tujuan tertentu. Banyak perubahan dalam organisasi yang terjadi begitu saja. Sebagian organiasi memperlakukan semua perubahan sebagai kejadian yang kebetulan
Apa tujuan perubahan terencana itu ? Pada hakikatnya ada dua tujuan. Pertama, perubahan terencana berusaha meningkatkan kemampuan organisasi dalam menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya. Kedua, perubahn terencana dimaksudkan untuk mengubah perilaku karyawan.
Jika ingin bertahan hidup, suatu organisasi harus menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Pada saat para pesaing memperkenalkan produk atau layanan baru, badan-badan pemerintahan memberlakukan UU baru, sumber-sumber pasokan penting hilang dari bisnis, atau berbagai perubahan lingkuangan yang serupa dengan itu terjadi, organisasi perlu menyesuaikan diri. Upaya-upaya untuk kelompok kerja adalah contoh kegiatan dalam lingkungan.
Didalam organisasi, siapa yang bertanngung jawab menjalankan kegiatan dalam rangka perubahan ? jawabannya adalah agen perubahan(chang agents). Para agen perubahan tersebut bisa jadi adalah para manajer ataupun non-manajer, karyawan perusahaan yang masih aktif, karyawan yang baru saja direkrut, atau konsultan luar. Jadi Agen Perubahan adalah orang yang bertindak selaku katalis dan memikul tanggug jawab untuk mengelola dan menjalankan aktivitas perubahan.Riset menunjukkan bahwa organisasi lebih mungkin memulai perubahan transformasional ketika dipimpin oleh orang dari luar jaringan tradisionalnya.
Resistensi terhadap Perubahan
Salah satu temuan yang paling banyak tercatat di dalam berbagai kajian terdapatr perilaku individual dan organisasi adalah bahwa organisasi dan para anggotanya menentang perubahan. Dalam arti tertentu, hal ini positif. Hal ini menunjukkan adanya kadar stabilitas dan prediktabilitas perilaku. Jika tidak ada resistensi,m perilaku organisasi akan mengikuti apapun karakteristik yang diperkenalkan. Resistensi terhadap perubahan juga dapat menjadi sumber konflik fungsional. Sebagai contoh, resistensi terhadap sebuah rencana reorganisasi atau perubahan dalam sebuah lini produk dapat merangsang munculnya perdebatan yang sehat tentang manfaat ide tersebut dan menghasilkan keputusan yang lebih baik. Akan tetapi, ada segi negatif dari resistensi terhadap perubahan. Resistensi tersebut menghambat penyesuaian dan kemajuan.
Resistensi terhadap perubahan tidak harus muncul dalam cara-cara yang baku. Resistensi dapat terbuka, implisit, segera, atau tertunda. Resistensi yang paling mudah diatasi oleh manajeman adalah bila hal ini bersifat terbuka dan segera. Tantangan yang lebih besar adalah mengelola resistensi yang implisit atau tertunda. Upaya-upaya resistensi yang implisit lebih tidak kentara-terkikisnya kesetiaan kepada organisasi, turunnya motivasi kerja, naiknya tingkat kesalahan atau kekeliruan, meningkatnya kemangkiran karena
“sakit”-dan, dengan denikian, lebih sulit dikenali.
Demikian pula, tindakan-tindakan yang tertunda mengaburkan hubungan antara sumber resistensi dan tesaksi terhadapnya. Suatu perubahan memunculkan apa yang tampak hanya sebagai reaksi kecil pada saat awalnya, tetapi selanjutnya resistensi itu berlangsung selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Atau, sebuah perubahan tunggal yang sebenarnya tidak terlalu penting dan berdampak kecil bisa jadi masalah yang berakibat fatal. Reaksi-reaksi terhadap perubahan berkembang dan selanjutnya meledak dalam bentuk tanggapan yang tampak sangat tidak proporsional dengan perubahan sebelumnya. Resistensi itu, tentu saja, hanya tertunda dan terakumulasi. Apa yang tampak di permukaan adalah tanggapan terhadap akumulasi perubahan-perubahan sebelumnya.
Mengatasi Resistensi terhadap Perubahan
Ada tujuh taktik yang disarankan untuk digunakan oleh para agen perubahan dalam mengatasi resistensi terhadap perubahan? Mari kita ulas ketujuh-tujuhnya secara singkat
1.      Pendidikan dan Komunikasi : Resistensi dapat dikurangi melalui komunikasi dengan para karyawan untuk membantu mereka melihat logika (alasan) dari suaru perubahan. Komunikasi dapat mengurangi resistensi pada dua tingkat. Pertama, komunikasi menghilangkan efek dari kesalah informasi dan komunikasi yang buruk. Jika karyawan menerima fakta yang utuh dan mampu menjernihkan segala kesalahpahaman yang mereka miliki, resistensi akan menurun. Kedua, komunikasi dapat membantu”menjual”perubahan.
2.      Partisipasi : Sulit bagi siapa pun melawan eputusan untuk berubah jika mereka ikut terlibat di dalamnya. Sebelum melakukan perubahan, mereka yang menentang perlu diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan. Dengan asumsi bahwa para peserta memiliki kemampuan untuk memberikan kontribusi yang signifikan, keterlibatan mereka dapat mengurangi resistensi, memenangkan komitmen, dan meninngkatkan mutu keputusan perubahan. Namun, dibalik hal-hal yang menguntungkan ini, terdapat pula aspek negatifnya yaitu potensi lahirnya solusi yang buruk dan terbuangnya banyak waktu.
3.      Membangun dukungan dan komitmen : Para agen perubahan dapat menawarkan upaya-upaya pendukung untuk mengurangi resistensi. Bilamana ketakutan dan kecemasan karyawan tinggi, konseling dan terapi karyawan, pelatihan keterampilan baru, atau cuti pendek berbayar bisa mamudahkan penyesuaian. Riset terhadap para manajer menengah menunjukkan bahwa apabila para manajer atau karyawan memiliki komitmen emosional yang rendah terhadap perubahan, mereka lebih menyukai status quo dan menentang perubahan tersebut.
4.      Negosiasi : Negosiasi sebagai taktik mungkin diperlukan bilamana resistensi datang dari sumber yang memegang kuasa. Namun, orang tidak boleh mengabaikan potensi biayanya yang tinggi. Selain itu, cara ini memiliki resiko, yaitu sekali seorang agen perubahan berunding dengan suatu pihak untuk menghindari resistensi, terbuka kemungkinan ia ditekan oleh individu-individu lain yang juga memiliki posisi tawar atau kuasa.
5.      Manipulasi dan Kooptasi : Manipulasi mengacu pada upaya-upya untuk mempengaruhi secara tersembunyi. Memelintir dan mendistorsi fakta agar tampak lebih menarik, menyembunyikan informasi yang tidak diinginkan dan membuat rumor palsu agar karyawan menerima suatu perubahan adalah beberapa contoh manipulasi.Kooptasi adalah bentuk mnaipulasi sekaligus partisipasi. Kooptasi berusaha “menyogok” para pemimpin kelompok resisten dengan memberi mereka peran kunci dalam keputusan perubahan.
6.      Memilih orang yang menerima perubahan : Riset menunjukkan bahwa kemampuan untuk mudah menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan terkait dengan kepribadian. Tampaknya, orang yang paling mudah menyesuaikan diri dengan perubahan adalah mereka yang terbuka terhadap pengalaman, memandang positif perubahan, bersedia menerima resiko, dan fleksibel dalam perilaku.
7.      Koersi : Penerapan ancaman atau paksaan langsung kepada orang-orang yang menentang. Jika manajemen perusahaan benar-benar bertekad akan menutup sebuah pabrik jika karyawannya tidak menyetujui pemotongan gaji, taktik perubahan ini disebut koersi.




2.3    Politik Perubahan
Pembahasan mengenai resistensi terhadap perubahan tidak akan lengkap tanpa mangulas secara ringkas politik perubahan. Karena hampir selalu mengancamm status quo, perubahan secara interen melibatkan kegiatan politik.
Politik mengimplikasikan bahwa pendorong perubahan lebih mungkin berasal dari para agen perubahan eksternal, karyawan yang masih baru dalam organisasi (dan belum berkepentingan terlalu jauh dengan status qua) atau dari para manajer yang agak terpinggirkan dari struktur kekuasaan pusat. Para manajer yang menghabiskan seluruh kariernya dalam suatu perusahaan saja dan akhirnya mencapai posisi senior dalam hierarki sering menjadi penghambat utama perubahan. Perubahan itu sendiri adalah ancaman yang sangat nyata bagi status dan posisi mereka. Namun, mereka bisa diharapkan untuk menjalankan perubahan guna menunjukkan bahwa mereka bukan semata-mata caretaker (pelaksana tugas). Dengan bertindak sebagai agen perubahan, secara simbolis mereka dapat menyampaikan kepada berbagai konsituen-pemegang saham, pemasok, karyawan, pelanggan-bahwa mereka berada di puncak masalah dan dapat anda terka, ketika dipaksa menjalankan tugas, mereka yang sudah lama memegang kekuasaan cenderung menerapkan perubahan dalamskala kecil saja. Perubahan radikal terlalu berbahaya.
Beberapa Pendekatan untuk Mengelola Perubahan Organisasi
Kini, kita beralih ke beberapa pendekatan untuk mengelola perubahan: model klasik proses perubahan tiga tahap dari Lewin, rencana delapan tahap dari Kotter, riset tindakan, dan pengembangan organisasi.
Model Tiga Tahap dari Lewin
Kurt Lewin menyatakan bahwa perubahan yang berasal di dalam organisasi mengikuti tiga tahap : pelepasan (unfreezing) status quo, pergerakan (movement) menuju keadaan akhir yang diinginkan, dan pembakuan kembali (refreezing) perubahan baru untuk melanggengkannya.
Model Tiga Tahap dari Lewin
Pelepasan                   Pergerakan              Pembakuan Kembali

Rencana Delapan Tahap dari Kotter untuk Menerapkan Perubahan
           
            John Kotter dari Harvard Bussiness School mengembangkan model 3 tahap Lewin untuk menciptakan sebuah pendekatan yang lebih terinci guna menerapkan perubahan.Dimulai dari menyusun kegagalan-kegagalan yang biasa dibuat oleh para manajer ketika mencoba memprakarsai perubahan.Berbagai kegagalan ini meliputi ketidakmampuan untuk menciptakan sense of urgency dari perlunya perubahan,kegagalan dalam menciptakan koalisi untuk mengelola proses perubahan,tidak adanya visi untuk berubah dan untuk mengkomunikasikan visi tersebut.
            Kotter kemudian menyusun 8 tahap yang urut untuk mengatasi masalah-masalah ini,yaitu:
Rencana Delapan Tahap Kotter untuk Menjalankan Perubahan
1.Membangun sense of urgency dengan cara menciptakan alasan kuat yang mendukung perubahan
2.Membentuk suatu koalisi sehingga memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan
3.Menciptakan suatu visi baru untuk mengarahkan perubahan dan strategi untuk mewujudkan visi tersebut
4.Mengkomunikasikan visi tersebut ke semua anggota organisasi
5.Mendayai oranglain utuk bertindak sesuai visi tersebut dengan cara menghapuskan hambatan-hambatan untuk berubah serta mendorong mereka untuk mau mengambil resiko dan mencari solusi dengan solusi terhadap persoalan secara kreatif
6.Merencanakan,menciptakan,dan merayakan kemenangan-kemenangan jangka pendek yang mengarahkan organisasi menuju visinya yang baru
7.Mengosolidasi perbaikan,meninjau kembali perubahan,dan membuat berbagai penyesuaian yang dipandang perlu dalam program-program baru
8.Menjalankan perubahan dengan cara menunjukan hubungan antara perilaku baru dan keberhasilan organisasi


2.4    Riset Tindakan
            Mengacu pada suatu proses perubahan yang didasarkan pada pengumpulan data secara sostematis dan selanjutnya pemilihan sebuah tindakan perubahan berdasarkan yang diindikasikan oleh data yang sudah dianalisis.Yang penting disinin adalah metedologi ilmiah untuk mengelola perubahan terencana.Proses riset tindakan terdiri atas lima tahap :
1.Diagnosis
2.Analisis
3.Umpan balik
4.Tindakan
5.Evaluasi
Anda akan melihat bahwa kelima tahap ini selaras dengan metode ilmiah
Riset Tindakan memberikan paling tidak dua manfaat pada organisasi. Pertama,riset ini berfokus pada masalah.Agen perubahan secara pbjektif mencari permasalahan dan jenis permasalahan mementukan jenis tindakan perubahan.Meskipun hal ini secara intuitif mungkin jelas banyak aktifitas perubahan tidak dilakukan secara demikian. Aktivitas-aktivitas tersebut justru berpusat pada sokusi.Agen perubahan mengajukan solusi kesukaannya misalnya menerapkan flexytime,tim,atau program rekayasa ulang proses.kemudian baru mencari masalah-masalah yang sesuai dengan solusi itu.
Kedua,karena riset tindakan begitu banyak melibatkan karyawan dalam prosesnya,terstitensi terhadap perubahan terminimalkan.Pada kenyataannya bila karyawan berpartisipasi terhadap perubahan secara aktif dalam tahap umpan balik,proses perubahan biasanya akan mendapatkan momentum dengan sendirinya. Karyawan dan kelompok-kelompok yang terlibat akan menjadi sumber tekanan internal yang berkesinambungan untuk mendorong perubahan.

Pengembangan Organisasi
            Pengembanagan Organisasi bukanlah sebuah konsep tunggal yang mudah di definisikan,melainkan sebuah istilah yang digunakan untuk mencakup sekumpulan intervensi perubahan terencana yang dikembangkan berdasarkan berbagai nilai humanistis-demokratis,yang berupa meningkatkan keefektifan organisasi dan kesejahteraan karyawan.
            Paradigma PO menempatkan perkembangan manusia dan organisasi,proses-proses kolaboratif dan partisipatif dan semangat meneliti di posisi yamg penting.Agen perubahan bisa saja menjadi pengarah dalam PO,namun ada penekanan yang kuat pada kolaborasi.
Berikut disajikan secara ringkas nilai-nilai yang mendasari kebanyakan upaya PO :
1.      Penghormatan terhadap manusia,Manusia dipandang sebagai makhluk yang bertanggung jawab,sadar,dan memiliki kepedulian,.ereka harus diperlakukan dengan penuh martabat dan kehormatan.
2.      Kepercayaan dan dukungan.Organisasi yang efektif dan sehat ditandai dengan kepercayaan,autentisitas,keterbukaan,dan suasana yang mendukung.
3.      Penyeimbang kekuasaan,Organisasi yang efektif tidak memberi tekanan terlalu besar pada wewenang dan kendali yang bersifat hierarkis
4.      Konfrontasi.Masalah tidak semestinya disembunyikan.Masalah sebaiknya dikonfrontasi secara terbuka
5.      Pertisipasi.Semakin banyak orang yang akan terkena dampak oleh sebuah perubahan dilibatkan dalam keputusan menyangkut perubahan itu,mereka akan semakin berkomitmen untuk menerapkan keputusan-keputusan itu.





Ada 6 teknik atau intervensi PO untuk mendorong perubahan yaitu:

1.      Pelatihan Kepekaan
Kelompok-kelompok pelatihan yang berusaha mengubah perilaku melalui interaksi kelompok tak terstruktur.
2.      Umpan Balik Survei
Penggunaan kuesioner  untuk mengidentifikasikan perbedaan persepsi antar anggota,diskusi mengikutinya,dan solusi-solusi ditawarkan
3.      Konsultasi proses
Seorang konsultan membantu klien untuk memahami proses peristiwa yang harus dihadapinya dan untuk mengidentifikasikan proses-proses yang perlu perbaikan
4.      Pembangunan tim
Interaksi yang intens antara anggota-anggota kelompok untuk meningkatkan kepercayaan dan keterbukaan
5.      Pengembanagan antar kelompok
Upaya-upaya PO mengubah sikap,stereotip,dan persepsi yang dimiliki satu kelompok terhadap kelompok lain
6.      Penyelidikan apresiatif
Upaya untuk mencari kualitas unik dan kekuatan khusus dari suatu organisasi yang dapat diolah lebih jauh untuk memperbaiki kinerja


Isu-Isu Kontemporer tentang Perubahan bagi Manajer Masa Kini.      
            Di bagian ini kita akan membahas empat isu kontemporer tentang perubahan.
Pertama,bagaimana perubahan teknologi mempengaruhi karyawan? Kedua,apa yang dapat dilakukan para manajer untuk membantu organisasi mereka menjadi lebih inovatif?Ketiga,bagaimana para manajer menciptakan organisasi yang senantiasa mau belajar dan melakukan penyesuaian? Keempat,apakah perubahan terikat pada kultur?

            Teknologi di Tempat Kerja
Kemajuan teknologi dewasa ini mengubah tempat kerja dan mempengaruhi kehidupan kerja para karyawan.Dlam bagian ini,akan kita mengamati dua sisi khusus yang berkaitan dengan proses dan pekerjaan .
Dua isu tersebut adalah:
Proses Perbaikan yang Terus Menerus
Upaya perbaikan yang terus menerus pada seluruh proses organisasi didasarkan pada pemahaman bahwa baik tidaklah cukup baik,dan bahwa kinerja yang unggul dapat dan harus ditingkatkan misalnya kenerja 99,9 persen bebas kesalahan terdengan seperti suatu standar yang sempurna,namun demikian kinerja semacam itu jadi tidak baik manakala anda menyadari bahwa kantor pos AS kehilangan 2.000 lembar surat perjam atau dua pesawat terbang mengalami kecelakaan dalam sehari di bandara O’Hare,Chicago ! Program program manajemen mutu berusaha mencapai perbaikan proses secara terus menerus sehingga variabilitas bisa berkurang.

Rekayasa Ulang Proses
            Istilah rekayasa ulang berasal dari proses pembongkaran kembali suatu produk elektronik dan merancang versi yang lebih baik.Ketika diterapkan pada organisasi,rekayasa ulang berarti bahwa manajemen harus mulai dari  selembar kertas yang bersih memikirkan ulang dan merancang kembali proses-proses yang dengannya organisasi menciptakan nilai dan menjalankan pekerjaan,meninggalkan operasi-operasi yang telah using.
Ketiga elemen kunci dari rekayasa ulang proses adalah mengidentifikasikan kompetensi pembeda sebuah organisai,menilai proses inti,dan menyusun kembali secara horizontal menurut proses.

2.5    Merangsang Inovasi
Inovasi meruakan gagasan baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk,proses,atau layanan, Karena itu setiap inovasi melibatkan perubahan,tetapi tidak semua perubahan musti melibatkan gagasan baru atau mengarah ke perbaikan yang signifikan.
Inovasi dalam organisasi dapat berkisar dari perbaikan kecil bertahap,seperti perluasan lini Oreo dari Nabisco yang meliputi Oreo double stuff dan Oreo berlapis coklat,hingga terobosan yang sifatnya radikal,seperti mobil Prius buatan Toyots yang berbahan bakar baterai.

            Sumber-Sumber Inovasi
Pertama, Struktur organic berpengaruh positif terhadap inovasi.karena lebih rendah dalam diferensiasi vertical,formalisai dan sentralisasi.
Kedua, Masa kerja yang lama dalam manajemen berhubungan dengan inovasi.Masa kerja manajerial jelas memberi legitimasi dan pengetahuan mengenai bagaimana menunaikan tugas dan mendapatkan hasil yang diinginkan
Ketiga, Inovasi dikembangkan ketika ada sumber daya berlebih. Memiliki sumber daya yang melimpah memungkinkan sebuah organisasi untuk membayar inovasi membiayai pengembangan inovasi,dan menanggung kegagalan.
Terakhir, Komunikasi antar unit yang intens ada di dalam organisasi organisasi yang inovatif.

Menciptakan Organisasi Pembelajaran
            Belakangan ini,organisasi pembelajar menjadi sumber erhatian besar dari para manajer dan pakar teori organisasi yang mencari cara baru untuk merespon dunia yang semakin salling tergantung dan senantiasa berubah. Dalam bagian ini,kita akan melihat seperti apa organisasi pembelajar itu dan metode-metode untuk menangani pembelajar tersebut.

Apa organisasi pembelajar itu?
Organisasi pembelajar adalah sebuah organisasi yang telah mengembangkan kapasitas untuk terus menerus melakukan penyesuaian dan perubahan. Persis seperti orang yang perlu belajar,begitupun organisasi. “Semua organisasi belajar,entah mereka menyadarinya atau tidak-ini merupakan syarat mendasar bagi kesinambungan konsistensi mereka.”Namun demikian,beberapa organisasi memerlukannya secara lebih baik disbanding yang lain.
Kebanyakan organisasi menjalankan apa yang disebut pembelajaran lingkar-tunggal.Ketika kesalahan terdeteksi,proses koreksi mengandalkan rutinitas masa lalu dan kebijakan saat ini.Sebaliknya,organisasi pembelajar menggunakan pembelajar lingkar-ganda.Ketika terdeteksi,suatu kesalahan dikoreksi dengan cara cara yang mencakup modifikasi tujian,kebijakan,dan rutinitas baku organisasi. Pembelajaran lingkar-ganda manantang berbagai asumsi dan norma yang sudah mengakar di sebuah organisasi. Dengan demikian pembelajaran ini memberi peluang bagi munculnya solusi solusi yang berbeda terhadap beragam masalah dan lonjakan dramatis dalam perbaikan.
Ciri-ciri organisasi pembelajaran
1.      Adanya satu visi bersama yang diyakini dan disepakati semua oramg
2.      Orang meninggalkan cara piker lama dan prosedur standar yang mereka gunakan untuk menyelesaikan persoalan atau menjalankna pekerjaan
3.      Para anggota memahami segenap proses,aktivitas,fungsi,dan interaksi organisasi dengan lingkungan sebagai bagian dari suatu system interelsi
4.      Orang secara terbuka aling berkomunikasi (lintas batas vertical dan horizontal) tanpa rasa takut pada kritik atau hukuman.
5.      Orang meninggalkan kepentingan pribadi mereka dan kepentingan departemen yang terfrakmentasi untuk bekerja bersama mewujudkan visi organisasi
 Sumber : Berdasarkan P.M.Senge,the fifth discipline,(newyork:doubled,1990).

Mengelola Pembelajaran
            Bagaimana anda dapat mengubah sebuah organisasi menjadi organisasi pembelajar yang tiada henti? Apa yang dapat dilakukan para manajer untuk menjadikan oerusahaan mereka sebagai organisasi pembelajar?
Susun strategi.
            manajemen perlu mengeksplisitkan komitmennya terhadap perubahan,inovasi,dan kebaikan terus menerus.
Rancang kembali struktur organisasi
            Struktur formal bisa menjadi penghalang serius bagi pembelajaran.dengan merapikan struktur,menghapus atau menggabungkan beberapa departemen,dan lebih memanfaatkan tim-tim lintas,interdependensi akan diperkuat dan batas2 wilayah antar orang dapat dikyrangi.
Bentuk kembali struktur organisasi
            Sebagaimana disebutkan sebelumnya,organisasi pembelajaran dicirikan dengan keberanian mengambil resiko,keterbukaan,dan pertumbuhan.Manajemen menentukan warna kultur organisasi,baik dengan apa yang dinyatakan (strategi) maupun apa yang dilakukan (perilaku). Para manajer perlu memperlihatkan dengan tindakan mereka bahwa keberanian mengambil resiko dan mengakui kegagalan merupakan sikap yang pantas dihargai. IIni berarti memberi imbalan kepada orang ya ngt mencoba memanfaatkan peluang dan membuat kesalahan dan, manajemen perlu mendorong tumbuhnya konfik fungsional. “Kunci untuk membuka sikap keterbukaan yang sesungguhnya dalam kerja, “ Kata salah seorang ahli organisasi pembelajar, “Adalah mengajar ornag untuk berhenti bersikap selalu memberi. Kita piker kesepahaman itu begitu penting.Siapa peduli? Anda harus menghidupkan paradox,konfik,dan dilemma dalam suasana yang terbuka,sehingga secara bersama-sama kita bisa lebih cerdas daripada sendiri-sendiri.”

Mengelola Perubahan : Keterikatan dengan Kultur
            Sejumlah isu perubahan yang telah kita bahas terkait dengan kultur. Untuk memberikan ilustrasi ,mari kita perhatikan lima pertanyaan berikut ;
1.      Apakah orang meakini perubahan sebagai hal yang mungkin?
2.      Jika perubahan itu mungkin berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkannya?
3.      Apakah resistensi terhadap perubahan lebih besar di beberapa kultur daripada di kultur yang lain?
4.      Apakah kultur mempengaruhi cara perubahan dijalankan?
5.      Apakah para pejuang ide yang sukses melakukan hal-hal secara berbeda dalam kultur yang berbeda?

Apakah orang meyakini perubahan sebagia hal yang mungkin? Ingat bahwa kultur tidak sama dalam hal keyakinan menyangkut kemampuan manusia untuk mengendalikan lingku ngan mereka.Dlam kultur yang meyakini bahwa manusia dapat menguasai lingkungan mereka,para individu akan berpandanga proaktif terhadap perubahan.Inilah,misslnya yang akan menggambarkan AS dan Kanada. Dibanyak Negara lain,seperti Iran dan Arab Saudi orang memandang diri sendiri dikuasai lingkungan mereka dan dengan demikian akan cenderung mengambil pendekatan pasif terhadap perubahan.
Jika perubahan itu mungkin,berpa lama waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkannya? Orientasi wakrtu sebuah kultur dapat membantu kita menjawab pertanyaan ini. Masyarakat yang memiliki focus jangka panjang,seperti jepang akan memperlihatkan kesabaran yang tinggi sembari menunggu hasil positif dari upaya perubahan. Dalam masyarakat yang punya focus jangka pendek sperti AS dan Kanada,orang mengharapkan perbaikan segera dan akan mencari program perubahan yang menjadikan hasil cepat.

Apakah kultur mempengaruhi cara upaya perubahan akan dijalankan? Jarak kekuasaan dapat membantu dalam isu ini. Dalam kultur yang memiliki jarak budaya tinggi,seperti spanyol atau Thailand,upaya-upaya perubahan akan cenderung diterapkan secara autokratis oleh manajemen puncak. Sebaliknya,kultur yang berjarak kekuasaan rendah menghargai metode yang demokratis. Krena itu,kami memprediksi bahwa metode partisipasi lebih banyak dipakai di Negara-negara semacam Denmark dan belanda.

Friday, July 11, 2014

Perencanaan Pesan-Pesan Bisnis

BAB II
PEMBAHASAN


2.1             Pengertian Perencanaan pesan-pesan bisnis

Perencanaan pesan-pesan bisnis merupakan suatu langkah strategis bagi pencapaian tujuan suatu organisasi secara menyeluruh, dan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan komunikasi. Pesan-pesan bisnis yang terencana dengan baik akan mempermudah pencapaian tujuan komunikasi. Dalam hal ini, perencanaan pesan-pesan bisnis lebih difokuskan pada perencanaan pesan-pesan bisnis secara tertulis.
Tujuan dalam perencanaan bisnis harus dievaluasi apakah tujuan realistis, waktu tepat, dan dapat diterima. Tujuan juga harus diuji apakah sesuai dengan kemampuan, ketepatan waktu dan orang, dan selaras dengan tujuan organisasi.Untuk membuat perencanaan bisnis yang baik komunikator perlu melakukan analisis audiens. Caranya aadalah dengan mengembangkan profil audiens dan menganalisa pemuasan konsumen. Komunikator mengantisipasi rekasi audiens, memperkirakan jumlah, mengetahui hubungan komunikator dengan audiens apakah kenal atau tidak. Untuk pemuasan audiens komunikator perlu mengetahui kebutuhan informasi audiens. Pemuasan juga bisa dilakukan dengan motivasional dengan pendekatan argumentasi, rasional, dan emosi audiens. Pemuasan emosional digunakan untuk mengubah perilaku audiens. Akan tetapi ada hambatan yaitu audiens cederung tidak mau berubah untuk hal baru.Penentuan ide pokok untuk menemukan cara mencapai tujuan tertentu bisa dilakukan dengan brainstorming. Brainstorming dilakukan melalui beberapa cara : story teller tour, random list, CFR (Conclusion Finding Recommendation)Worksheet, question and answer chain, dan journalist approach.
Dalam seleksi saluran perlu dipertimbangkan beberapa hal yaitu tingkat kepentingan, formalitas, kompleksitas,kerahasian, emosi, biaya, dan harapan audiens.Saluran lisan memiliki kelebihan cepat mendapat feedback dan menyampaikan pesan, audiens merasa nyaman, reaksi audiens terbaca, dan ekonomis. Bentuk saluran lisan adalah percakapan, wawancara, diskusi, seminar, lokakarya, pelatihan, pidato, dan presentasi. Saluran lisan informal itu tidak terstruktur tapi ide lancer. Saluran lisan formal terjadi saat RUPS, presentasi, dan penganugerahan. Alat Bantu yang digunakan adalah film, video, rekaman, LCD, dan slide.
Saluran tulisan memiliki kelebihan yaitu lebih teratur karena komunikator sempat merencanakan dan mengendalikan isi pesan. Bentuknya adalahsurat, memo, dan proposal.Setelah Memperoleh gambaran mengenai berbagai macam bentuk saluran komunikasi baik formal maupun informal langkah berikutnya adalah melakukan perencanaan pesan-pesan bisnis, yang mencakup pesan yang tertulis maupun lisan.Perencanaan bisnis merupakan satu langkah strategis bagi pencaaian tujuan suatu organisasi secara menyeluruh. Pesan-pesan bisnis yang terencana dengan baik mempermudah pencapaian tujuan komunikasi. Makalah ini akan menjelaskan tentang perencanaan pesan-pesan bisnis yang difokuskan pada perencanaan pesan-pesan bisnis secara tertulis

2.2       Pemahaman Proses Komposisi

Proses komposisi ( composition process ) penyusunan pesan-pesan bisnis dapat dianalogikan dengan proses penciptaan lagu seperti yang dilakukan oleh seorang komposer. Begitu halnya dengan proses komposisi untuk pesan-pesan bisnis. Penyusunan pesan-pesan bisnis meliputi tiga tahap :

1.      Perencanaan
Dalam fase perencanaan ( planning phase ), dipikirkan hal-hal yang cukup mendasar, seperti maksud/tujuan komunikasi, audiens yang akan menerima pesan, ide pokok (main idea) pesan-pesan yang akan disampiakan, dan slauran atau media yang akan digunakan untuk menyampaikan pesan.

2.      Pengorganisasian
Organisasi dan komposisi erat kaitannya dengan penyususnan atau pengaturan kata-kata, kalimat, dan paragraf. Oleh karena itu perlu diperhatikan bagaimana menggunakan kata-kata, kalimat, dan paragraf yang sederhana, mudah dipahami, dimengerti dan dilaksanakan oleh si penerima pesan.





3.      Revisi
Setelah ide-ide dituangkan dalam kata-kata, kaliamat , maupun  paragraf perhatikan apakah kata-kata, kalimat, dan paragraf tersebut telah diekspresikan dengan benar. Kalau ternyata belum sesuai, perlu dilakukan pengecekan sekaligus revisi/perbaikan-perbaikan seperlunya, sehingga apa yang telah direncanakan sebelumnya dapat dicapaiseefektif mungkin.

2.3       Penentuan Tujuan Pesan Bisnis

            Pesan bisnis dapat menciptakan nilai tambah bagi perusahaan. Pesan-pesanyang di sampaikan kepada pihak lain hendaknya mampu menjaga danmeningkatkan citra perusahaan. Untuk dapat menciptakan good will, setiap pesan bisnis hendaknya memiliki tujuan yang jelas, dapat di ukur, dan tidak bertentangan dengan tujuan organisasi.

            Ada tiga tujuan unum komunikasi bisnis, yaitu :

1.      Memberi informasi (informing)
Tujuan pertama dalam komunikasi bisnis adalah memberikan informasi yang berkaitan dengan dunia bisnis kepada pihak lain. Sebagai contoh, seorang pemimpin suatu perusahaan membutuhkan bebebrapa pegawai baru yang akan di tempatkan sebagai staf adminitrasi di kantor- kantor cabang yang ada.

2.      Membujuk atau persuasi (persuading)
Tujuan kedua komunikasi bisnis adalah memberikan persuasi kepada pihak lain agar apa yang disampaikan dapat dipahami dengan baik dan bener. Hal ini sering dilakukan, terutama yang berkaitan dengan negosiasi antara seseorang dengan orang lain dalam bisnis.

3.      Melakulakan kerjasama atau kolaborasi (kolaborating)
Tujuan ketiga dalam komunikasi bisnis adalah melakukan kolaborasi atau kerjasama bisnis antara seseorang dengan orang lain. Malalui jalinan komunikasi bisnis tersebut seseorang dapat dengan mudah melakukan kerjasama bisnis, baik dengan perusahaan domestik maupun perusahaan asing.



2.4       Analisis Audiens

Analisis terhadap audiens sangat perlu dilakukan, audiens dalam studi komunikasi bisa individu ataupun organisasi. Audiens biasanya memiliki pemahaman yang berbeda-beda atas pesan yang mereka terima.

a.       Mengembangkan Profil Audiens
Analisis terhadap Audiens yang sudah dikenal biasanya relatif lebih mudah dilakukan tanpa   harus melalui penelitian yang rumit. Demikian juga, reaksi atas pesan yang dikrim kepada orang yang sudah dikenal pada umumnya bisa diperkirakan.

b.      Mengenali penerima primer
Apabila penerima terdiri dari beberapa orang, perlu dikenali orang-orang terpenting yang berpengaruh atau bertindak sebagai pengambil keputusan.

c.       Menetapkan jumlah dan komposisi audiens
Jumlah penerima juga memengaruhi pesan bisnis. Menulis pesan bisnis yang ditujukan hanya kepada satu orang akan berbeda dengan pesan bisnis yang ditujukan kepada banyak orang.

d.      Mengukur Tingkat Pemahaman Audiens
Apabila penerima memiliki latar belakang yang sama pengirim , maka pada umumnya mereka dianggap memiliki p[emahaman yang relatif sama terhadap suatru pesan.




e.       Memperkirakan reaki penerima
Cara mengorganisasikan pesan sangat tergantung pada reaksi yang diperkirakan akan dilakukan oleh penerima.

f.       Memenuhi Kebutuhan Informasi Audiens
Pesan yang baik akan mampu memenuhi semua pertanyaan penerima . Memenuhi kebutuhan informasi penerima merupakan salah satu kunci sukses pesan bisnis. Ada lima pedoman yang perlu diperhatikan agar pesan bisnis mampu memenuhi kebutuhan informasi audiens, yaitu :

1.      Temukan apa yang ingin diketahui audiens
Tidak semua audiens pandai mengungkapkan apa yang ingin diketahuinya.

2.      Antisipasi pertanyaan yang tidak diungkapkan
Informasi tambahan yang relevan perlu diberikan untuk mengantisipasi kebutuhan informasi yang tidak disadari oleh audiens.

3.      Berikan semua informasi yang diperlukan oleh audiens
Ujilah kelengkapan pesan yang dikirim dengan berpedoman pada 5 W + 1 H ( Who, What, Why, When, Where, dan How).

4.      Pastikan bahwa informasi yang diberikan akurat
Dalam bisnis, ketepatan informasi harus dipastikan terlkebih dahulu sebelum membuat komitmen tertulis. Kaji ulang tanggal,jadwal, asumsi, perhitungan matematika,atau keuangan untuk memastikan keabsahannya.

5.      Tekankan gagasan yang paling menarik bagi audiens.
Diantara beberapa gagasan yang disampaikan, lakukan penekanan pada gagasan yang paling menarik perhatian audiens.



g.      Memuaskan kebutuhan emosional dan praktis Audiens
Pesan yang bertujuan membujuk dan bekerja sama seringkali gagal mengubah keyakinan atau perilaku audiens. Hal pentingb yangb harus diingat bahwa pesan bisnis disampaikan kepada audiens yang juga melakukan kegiatan bisnis. Untuk mencapai tujuan komunikasi, diupayakan agar pesan bisnis menggunakan pendekatan emosional audiens, terstruktur, rasional, serta disusun dengan format yang menarik.

Ø  Cara Memuaskan Kebutuhan Motivasional Audiens

Memotivasi audiens bertujuan untuk mengubah perilaku. Dalam pemberian motivasi seringkali mengalami hambatan atau kendala. Hal ini disebabkan oleh adanya kecendrungan dari audiens untuk tidak mau mengubah sesuatu yang ada dengan hal yang baru. Untuk mengatasi kendala tersebut salah satunya dengan cara dengan mengatur pesan-pesan sedemikian rupa sehingga informasi yang disampaikan dapat diterima audiens dengan mudah.
Pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan argumentasi yang bersifat rasional. Contoh, jika seseorang pemohon pinjaman harus mengurangi jumlah pinjaman yang telah ada sebelum menambah pinjaman baru yang lebih besar, komunikator dapat menggunakan argumentasi sebab-akibat untuk menjelaskan bahwa penambah jumlah pinjaman akan sangat berbahaya bagi kepercayaan yang telah diberikan.

2.5 Penentuan Ide Pokok
Setiap pesan-pesan bisnis akan bermuara pada satu tema pokok yaitu ide pokok (main idea). Hal-hal lain selain ide pokok hanyalah merupakan ide-ide pendukung (supporting idea).




            Topic dan ide pokok merupakan dua hal yang berbeda . Topic adalah subjek pesan yang lebih luas, sedangkan ide pokok adalah pernyataan tentang suatu topic yang menjelaskan isi dan tujuan dari topic tersebut sehingga dapat diterima oleh audiens.

1.      Teknik Curah Pendapat
Pendekatan yang paling baik adalah curah pendapat (brainstorming) yang memberikan keleluasaan pikiran untuk mencari berbagai kemungkinan, menguji berbagai alternative dengan mempertimbangkan tujuan, audiens, dan fakta yang ada. Beberapa teknik curah pendapat yang dapat digunakan antara lain:
a.      Storyteller’s Tour
b.      Random List
c.       CFR (Conclusions, Findings, Recommendations) Worksheet
d.      Journalistic Approach
e.      Question and Answer Chain

2.      Pembatasan Cakupan
Penyajian informasi rutin kepada audiens hendaknya menggunakan kata-kata yang singkat. Cara seperti ini juga dapat membangkitkan rasa hormat (respect) audiens kepada komunikator.  Ide pokok dari pesan-pesan selebihnya disesuaikan dengan waktu yang tersedia sehingga poin-poin yang penting tidak sampai terabaikan. Yang lebih penting adalah ide-ide pokok yang disampaikan haruslah mudah dimengerti dan diterima oleh audiens.





2.6. Seleksi Saluran Dan Media
1.      Komunikasi Lisan

Salah satu kebaikan dari komunikasi lisan (oral communictionss) adalah kemampuannya memberikan umpan balik (feedback) dengan segera. Kelebihan lain dari komunikasi lisan adalah sifatnya yang ekonomis. Komunikasi lisan mencakup antara lain percakapan antara dua orang atau lebih, pembicara lewat telepon, wawancara kerja, pertemuan kelompok kecil (diskusi kelompok), seminar, lokakarya, program pelatihan, pidato formal, dan presentasi penting lainnya.

2.      Komunikasi Tertulis

Pesan-pesan tertulis juga memiliki berbagai macam bentuk seperti, surat, memo, proposal, dan laporan. Salah satu kelebihan komunikasi tertulis (written communications) adalah bahwa penulis mempunyai kesempatan untuk merencanakan dan mengendalikan pesan-pesan mereka. Dalam memilih saluran dan media berkomunikasi perlu dipertimbangkan tingkat kepentingannya, formalitas, kompleksitas, tingkat kerahasiaannya, emosional, dan biaya pengiriman serta harapan audiens.








Komunikasi Lisan dan Tertulis
KomunikasiLisan
KomunikasiTertulis
·         Anda menginginkan umpan balik segera dari audiens
·         Pesan anda relative seerhana dan mudah diterima
·         Anda tidak memerlukan catatan permanen
·         Anda dapat mengumpulkan audiens lebih mudah atau ekonomis.
·         Anda menginginkan interaksi dalam memecahkan masalah.
·         Anda tidak memerlukan umpan balik
·         Pesan anda sanga trinci, kompleks, dan memerlukan perencanaan yang hati-hati
·         Anda memerlukan catatan permanen.
·         Anda ingin mencapai audiens yang luas
·         Anda ingin meminimalisasi distorsi penyampaian pesan
Media komunikasilisan
Media KomunikasiTertulis
·         Percakapan secara langsung, pidato, pertemuan-pertemuan.
·         Telepon dan surat suara (voice mail)
·         VOIP (Voice Over Internet Protocols)
·         Audio tape dan videotape
·         Telkonferensi dan konferensi video
·         Surat-surat, memo, laporan, proposal
·         Email
·         Surat regular dankhusus
·         Faksimile











 Kasus

Visi dan Misi Nestlé

Sebagai perusahaan produksi makanan terbesar di dunia, kami memusatkan perhatian kami untuk meningkatkan gizi (nutrition), kesehatan (health), dan keafiatan (wellness) dari konsumen kami. Para karyawan kami berdedikasi dan termotivasi untuk memproduksi produk berkualitas dan membangun brand yang memenuhi kebutuhan konsumen.

Nestlé telah hadir di Indonesia sejak abad ke-19. Kini, bersama sekitar 2600 karyawan kami mengoperasikan tiga (3) pabrik yang mengolah sekitar 700.000 liter susu setiap hari  dari 33.000 peternak susu di Jawa Timur dan 10.000 ton kopi dari sekitar 10.000 petani kopi di Lampung setiap tahun. Bersama ketiga sentra distribusi dan ratusan distributor kami hadir di setiap provinsi di Indonesia, memastikan ketersediaan produk Nestlé bagi konsumen Nestlé bagi konsumen diseluruh Indonesia.

Sebagai bagian dari suatu perusahaan global, Nestlé terus menerus melakukan penelitian dan pengembangan untuk terus melakukan penyempurnaan berbagai produk ciptaannya. Hal ini dilakukan sejalan dengan berkembangnya konsep dan dimensi makanan, yang kini tidak lagi sekedar untuk memperoleh kenikmatan (enjoyment) namun telah berkembang menuju keafiatan (wellness) dan bermuara pada kehidupan yang sejahtera dan berkualitas (wellbeing). Hal ini sejalan dengan Misi Nestlé Indonesia untuk turut mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sehat melalui produk-produknya yang berkualitas, bernutrisi dan lezat rasanya. Selain itu kami juga memfokuskan diri untuk senantiasa memberikan informasi dan pendidikan bagi konsumen kami, antara lain seperti tercantum dalam kemasan setiap produk kami. Dalam menjalankan bisnisnya, Nestlé berusaha untuk selalu menjalankan tanggung jawab kepada masyarakat dan menciptakan manfaat.


Sebagai perusahaan terdepan dalam bidang nutrisi, kesehatan dan keafiatan (nutrition, health and wellness), kami di Nestlé yakin bahwa untuk mencapai kesuksesan perusahaan dalam jangka panjang serta menciptakan manfaat  bagi para pemegang sahamnya, perusahaan harus menciptakan manfaat bagi masyarakat – kami menyebutnya Creating Shared Value (menciptakan manfaat bersama). Kami tidak hanya akan memproduksi produk berkualitas tinggi dan bergizi bagi para konsumen, namun juga akan membantu ribuan petani untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas hasil pertanian mereka, menciptakan lapangan pekerjaan baru, menggunakan bahan baku dalam negeri yang akan diolah menjadi produk bernilai tambah dan berkualitas tinggi – dengan demikian menciptakan manfaat bersama sepanjang mata rantai perusahaan.

Dalam beroperasi, kami senantiasa memastikan standar perilaku bisnis yang ketat dan mendukung pelestarian lingkungan sebagaimana tercantum dalam Nestlé Corporate Business Principles. Ini termasuk Prinsip-Prinsip Global Compact PBB tentang Hak Azasi Manusia, Tenaga kerja , Lingkungan dan Korupsi. Dengan landasan strategi bisnis inilah kami memastikan sukses jangka panjang bagi perusahaan