Cinta tak lagi bersinar,
tak lagi berembun,
membasahi, menerangi lampu yg telah mati,
terbawa arus, tenggelam di dasar laut paling dalam, bagai tiada kekuatan ia mati ..
Galau, galau, galau,
apa yang ia rasakan sekarag dan selamanya?
Wanita bodoh dengan baju berlumuran darah menyertai kisahnya melambang jauh ke angkasa ..
Tiada senyum, bukan duka,
tiada cinta, bukan pengemis ,
tiada sapa, bukan sombong bibirnya,
tiada, tiada, tiada, hanya tiada yang ia rasakan. tak pernah bertutur bagai matahari tersenyum sengat.
Itulah aku, inilah aku, dsinilah aku,
tak tertepi, tak berujung hati mengikrarkan harapan. harapan agar si yang dicinta dapat kembali, kembali datang dan terbang bersama ..
Harapan itu sirna, harapan itu tak 'kan pernah ada, harapan itu hanya polemik di fikrannya ..
Menunggu di sini, terbelenggu rantai berwarna merah muda ..
Kenapa? kenapa? kenapa?
Sang pemilik hati tak pernah merasakan hembusan nafasnya, getaran jiwanya, dentakan denyut nadinya .,
tak kau lihat lagikah luka itu, kau dengan bangganya menjadi emas!
Tapi kenapa kau tak jadi plester untuk ku? apa harus aku mati di perapian ini? apa harus kutusuk jantungku dengan pisau ini?
Sesungguhnya aku kecewa, kau tau itu, kau camkan itu
aku tak pernah takut kehilangan dirimu, aku tak pernah takut untuk melupakanmu, tapi yang aku takut cintamu yang sempat terucap pergi bersama hembusan angin di padang pasir,
duduk, diam, merenung, menangis ,,
akh, buat apa kuungkapkan semua?
Apa kau akan rasakan?
Ternyata cinta hanya pembodohan saja ..
Sama seperti aku...
tak lagi berembun,
membasahi, menerangi lampu yg telah mati,
terbawa arus, tenggelam di dasar laut paling dalam, bagai tiada kekuatan ia mati ..
Galau, galau, galau,
apa yang ia rasakan sekarag dan selamanya?
Wanita bodoh dengan baju berlumuran darah menyertai kisahnya melambang jauh ke angkasa ..
Tiada senyum, bukan duka,
tiada cinta, bukan pengemis ,
tiada sapa, bukan sombong bibirnya,
tiada, tiada, tiada, hanya tiada yang ia rasakan. tak pernah bertutur bagai matahari tersenyum sengat.
Itulah aku, inilah aku, dsinilah aku,
tak tertepi, tak berujung hati mengikrarkan harapan. harapan agar si yang dicinta dapat kembali, kembali datang dan terbang bersama ..
Harapan itu sirna, harapan itu tak 'kan pernah ada, harapan itu hanya polemik di fikrannya ..
Menunggu di sini, terbelenggu rantai berwarna merah muda ..
Kenapa? kenapa? kenapa?
Sang pemilik hati tak pernah merasakan hembusan nafasnya, getaran jiwanya, dentakan denyut nadinya .,
tak kau lihat lagikah luka itu, kau dengan bangganya menjadi emas!
Tapi kenapa kau tak jadi plester untuk ku? apa harus aku mati di perapian ini? apa harus kutusuk jantungku dengan pisau ini?
Sesungguhnya aku kecewa, kau tau itu, kau camkan itu
aku tak pernah takut kehilangan dirimu, aku tak pernah takut untuk melupakanmu, tapi yang aku takut cintamu yang sempat terucap pergi bersama hembusan angin di padang pasir,
duduk, diam, merenung, menangis ,,
akh, buat apa kuungkapkan semua?
Apa kau akan rasakan?
Ternyata cinta hanya pembodohan saja ..
Sama seperti aku...

0 komentar:
Post a Comment